Translate

Sabtu, 29 Desember 2012

[STORY] Keywords Life Eps 01



Keywords one :


-FEAR of POWER-

            

 “Apa sudah selesai. Memang apa lagi yang akan di  bahas…??  Tanya Tia, yang sebenarnya sudah agak sedikit bosan mengenai bahasan masalah dunia gaib ketiga teman anehnya itu.   “Tentu saja membahas kembali tentang rahasia kehidupan kand. Dan selanjutnya membahas tentang masalah PR fisika…!” jawab Dhandy dengan ekpresi terlihat senang.  Sejurus kemudian, kelimanya duduk dalam posisi seperti, sedang rapat. Dan ketika semuanya telah nyaman dengan posisi duduk mereka, Aniel mulai melontarkan ceritanya.
           
 “Sebenarnya ini bukan bahasan yang penting, namun karna Dhandy dan Navlan memaksa saya untuk bercerita kepada kalian, yahh.., apa boleh buat. . .    ucap Aniel, seperti terpaksa.    “Sebelumnya saya minta maaf bila ada yang mereka tersinggung disini. Kalian tahu Dewa dan Dewi kand.., menurut kalian mengapa banyak di dalam film-film movie seperti Crash of the Titan, Seorang Dewa akan lemah.., bahkan istananya megahnya di kayangan dapat hancur bila hanya sedikit manusia yang mempercayai keberadaannya....?? Tanya Aniel, yang tentu saja mengarah kepada Tia dan Samuel, yang baru pertama kali menyimak bahasan aneh, seprti itu.
             
“Aniel…, kamu itu kand anak paling genius di satu sekolah. Pasti lebih tahu…!” jawab Tia, menyerah.  “Menurut pendapatku…, Dewa dan Dewi itu sebenarnya adalah manusia pada zaman dulu, yang mempunyai kekuatan, bagaikan seorang tuhan. Maka dari itu mereka di sembah oleh manusia lainnya. Dan tak ada hubungannya kekuatan mereka bisa lemah hanya karna manusia tak mempercayai lagi keberadaannya….!” Jawab Samuel, merasa yakin.
             
“Oh iya…, bagaimana kau bisa bicara seperti itu. Kau ingin menentang hukum keseimbangan di bumi…  ??” Tanya Dhandy kepada Samuel, yang langsung di sambar oleh Navlan.  “Intinya…, jika ada makna denotasi pastilah ada makna konotasi. Jika ada siang, pastilah ada malam, dan jika ada terang, pastilah ada gelap. Semua pasangan setiap object, pastilah berlawanan, agar menciptakan sebuah hukum keseimbangan. Ada Dewa atau Alien, maka ada Manusia…”  jawab Navlan, sedikit mengutarakan pendapatnya.
             
“Bisa di bilang seperti itu. Kekuatan seorang pemimpin, tergantung dari kepercayaan rakyat di bawahnya. Jika rakyatnya percaya pemimpin itu baik, maka pemimpinnya pun akan kuat dan tidak akan goyah atau turun dari pimpinannya. Dan sebaliknya.., jika rakyatnya menaruh curiga kepada pemimpinnya, maka suatu saat si Pemimpin bisa turun juga dari jabatannya itu. Ada pemimpin, maka akan ada rakyat….!” jawab Aniel menjelaskan lebih detail.
             
“Tunggu dulu.., itu seperti Hukum Kepemimpinan di era modern sekarang…” ucap Tia, menganalisis pepatah Aniel barusan.
            
 “Yapp…, anggap saja Dewa dan Dewi adalah seorang presiden di masa lalu. Dimana di masa itu, orang yang memiliki kekuatan terbesarlah yang akan di anggap sebagai pemimpin kaum mereka…!” ucap Aniel membenarkan.
            
 “Tapi…, gak sesuai sama bahasan cerita kau nihh… “ ucap Samuel, mulai merasa sedikit bosan.   “Tentu saja ini berkaitan. Pemimpin masa lalu mengandalkan kekuatan tersembunyi dari rakyatnya yaitu “Power of Wish”. Dengan rasa kepercayaan yang tinggi dari rakyatnya, para Dewa dan Dewi akan mendapatkan kekuatan tambahan dari setiap kekuatan wish yang tersembunyi pada rakyatnya. Ketakutan kamu pun dapat membuat mereka kuat, dan hal ini pun berlaku untuk mahkluk lainnya…” jawab Dhandy, sambil tersenyum, agak sedikit mengerikan.

“Tengg Tonggg…,   Tengggg…., Tongggggg………!!!
             
Bel masuk berbunyi keras. Kelimanya segera membereskan bangku dan meja pada posisi awal kembali. Dhandy, Aniel, dan Navlan pun, berpamitan dan pulang kembali ke alamnya. Samuel masih memikirkan perkataan dari Aniel, Navlan, terutama Dhandy yang membuatnya agak sedikit parno. Menit demi menit berlalu, ternyata guru yang mereka tunggu, sedang tidak enak badan dan tak masuk sekolah. Murid-murid di kelas Samuel, hanya di beri 10 soal tugas untuk di kerjakan dan di kumpulkan pada hari itu juga, ke ruang guru.
             
Bagi murid-murid yang agak sedikit menentang, tak ada guru merupakan moment terbaik. Dimana mereka bisa bebas mengobrol sambil makan snack di dalam kelas. Mereka menunggu dan membujuk si pintar di dalam kelas mereka, agar mengerjakan 10 soal itu secepatnya. Agar mereka bisa ikut Copas (Copy, Paste).
             
“Bobby.., nanti aku lihat yahh, kalo kamu udah selesai mengerjakan soal….” goda Tina dan Gengnya, membujuk Bobby, murid terajin dan terpintar di sekolah itu.     “Okee lahh….” Jawab Bobby meng Iyakan saja. Bersama Geng Pintar lainnya, Bobby mulai mengerjakan soal-soal itu dengan rasa bangga. Karna tanpa kehadiran dirinya, mungkin teman-temannya tersebut, sudah kewalahan mengerjakan soal. Samuel dan Tia ikut bergabung bersama Bobby. Mereka berdua memang murid yang tak suka keributan di sekolah, dan memilih untuk mengikuti Bobby bersama yang lainnya, mengerjakan tugas.
             
“Guys.., kita foto-foto yukk. Kita kand belum pernah foto-foto di dalam kelas kita sendiri….”  Ujar Tina kepada teman-teman sekumpulannya, Dina, Diana, dan Yolan.
            
 “Ya iya lah belum pernah, kelasnya agak gochic kaya gini. Masa gorden jendela aja warna item, Pintu di cat warna item, meja guru juga item…!” jawab Dina seakan menolak ajakan Tina dengan perkataannya itu.
             
 “Ini Unyu tau, Unyu…, lihat aja, temboknya warna putih, lantai putih, dan papan tulis putih, jadi kaya dekorasi zebra atau sapi…” sergah Yolan, yang menyukai dekorasi gochic tersebut di dalam kelasnya.   “What Ever. Gimana kalian aja….”  
            
 “Udahlah Guys.., kita hepi-hepi aja sekarang. Kita Update status Facebook di kelas kita. Okee…”  ucap Diana, mendinginkan situasi. Keempatnya sepakat untuk foto bersama. Yolan meminta pacarnya Dio, yang juga satu kelas, untuk memotret mereka ber empat di kelas itu. Semua keadaan baik-baik saja, sampai pada foto ke empat di ambil, Yolan yang melihat hasil dari foto itu berteriak sejadi-jadinya dan mendekap Dio, tanpa ia sadari, karna ketakutan.
             
Otomatis Dio dan Yolan menjadi bahan godaan teman-temannya yang lain, yang melihat kejadian itu, bahkan sampai ada yang sempat memotretnya. Dan meng Uploadnya ke media sosial seperti Twitter dan Facebook.   “Honey.., ada apa sihh…?? Jawab Dio, sambil perlahan-lahan melepas dekapan kuat Yolan itu. Yolan nampak menggigil kedinginan dan badannya gemetaran.  “Apa itu di foto….!”  Jawab Yolan ketakutan, sambil memberikan ponselnya ke Dio.
             
 Dio nampak kaget melihat hasil dari foto yang keempat tadi. Semula dio mengira gambar itu hanyalah gambar dari pantulan cayaha dari cermin, namun ternyata, di balik luar cermin yang terbuka itu, ada sesosok gadis kecil perempuan. Yang bermuka pucat dan permukaan wajahnya keliatan retak. Dia tersenyum menatap kamera dari balik kaca transparan jendela luar dan setengah wajahnya tertutupi kepala Yolan yang sedang berpose bersama tiga orang teman lainnya.
             
Dengan ketakutan, Dio langsung menutup daun pintu kelas rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Untung pintu tersebut dapat di kunci dari dalam, sehingga Dio dengan mudah menutup pintu itu, dan juga menutup semua gorden jendela di dalam kelas.    “Yo…, kau lagi kesambet setan apa. Pake acara nutup-nutupin jendela…??  Ucap teman baiknya Aldo, yang melihat kelakuan aneh Dio sekarang.   “Liat tuhh foto….”  Jawab Dio sambil menyodorkan ponsel miliknya ke genggaman tangan Aldo.  
            
 “Anjrriiitttttt….., ada setan di siang bolong…!!!”  seru Aldo, ketika melihat foto di ponsel temannya itu.  Sebagian murid yang penasaran, serentak menghampiri Aldo. Mereka penasaran ingin melihat penampakan di foto itu. Samuel, Tia, dan Bobby memilih untuk tetap mengerjakan tugas mereka di tempat duduknya.   “Bob…, kita liat yukk foto yang lagi di kerubutin anak-anak….” Ajak Samuel yang sebenarnya agak sedikit penasaran.
            
 “Ngapain liat yang gituan. Sekali liat, kamu gak bakalan berani injak kaki di kelas ini lagi nanti….” Tolak Bobby, seakan menakut-nakuti Samuel dan Tia.  “Betul tuhh.., kalo sekali liat pasti nanti ngedatangin hantunya ke rumah masing-masing….” Resah Tia, yang juga di buat parno, karna suasana misteri yang sekarang melanda kelasnya. Ditambah lagi dengan suara jeritan histeris dan tangisan Yolan, Diana, Dina, dan Tina yang ketakutan. Dan kebetulan juga…, ruangan kelas 3 IPA 2, terletak di posisi paling ujung dan berjauhan dengan ruangan kelas lainnya. Sehingga keributan yang terjadi di dalam kelas itu, hanya sayup-sayup terdengar oleh kelas lainnya.
             
“Aldo memberanikan dirinya untuk mengintip ke luar kelas lewat celah-celah jendela. Ia melihat suasana luar kelas yang sepi dan sunyi. Tidak ada hal aneh, bahkan penampakan pun yang ia lihat disana. Namun beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu dari luar di ketuk. Aldo yang mengintip dari jendela, tiba-tiba saja berlari menghampiri teman-temannya lagi dan mengatakan.   “Barusan ada yang ketuk pintu, tadi pas aku liat, gada orang sama sekali di luar pintu masuk….”  Ucap Aldo sambil menenangkan jantungnya yang berdegup kencang dan keringat dingin yang mulai bercucuran di seluruh tubuhnya sekarang, seolah-olah telah berlari cukup jauh.
             
Suasana kelas nampak semakin bertambah ribut saja. Suara ketukan pintu itu semakin keras seiring waktu berjalan, di tambah seluruh gorden jendela di dalam kelas itu, telah berkibar-kibar seperti bendera, tanpa ada angin yang membuatnya terangkat ke atas.  “Tia.., kau ngerasa ada yang aneh gak sekarang….” Jawab Samuel kepada Tia yang telah sudah lebih dulu menundukan kepala dan wajahnya ke permukaan meja, sambil kedua tangannya menutup seluruh celah cahaya yang dapat masuk ke wajahnya.
             
“Pasti ada penjelasan yang logis tentang masalah ini. Mungkin ada seseorang yang mencoba menakuti kita. Duga Bobby. Dia adalah satu-satunya murid yang tidak histeris melihat kejadian itu.   Bobby memberanikan diri menuju daun pintu masuk dan berkata.    “Siapa pun kamu, jangan ganggu kami disini, kami sedang belajar, dasar anak-anak kurang kerjaan…”  jawab Bobby dengan lantangnya, seperti sedang menantang.
             
Namun entah kenapa, tiba-tiba saja keadaan kembali normal, walau perlahan-lahan. Sementara itu, Bobby tetap enggan membuka daun pintu masuk, sampai tiba-tiba terlihat ada seseorang yang mencoba membuka pintu dari dalam. Terlihat dari gagang pintu yang bergerak-gerak sendiri.    “Anak-anak…., sedang apa kalian disana. Kenapa pintu kelas di tutup dan jendela di tutup juga…. !!!”  teriak suara dari luar ruangan tersebut.
             
Mendengar suara akrab itu, Aldo langsung tergesa-gesa membuka daun pintu dan ia pun melihat penyelamat datang ke dalam kelasnya.   “Bu Puji.., untunglah ibu datang. Kami sudah ketakutan sedari tadi….”  Ungkap Bobby, sambil mencium tangan guru favoritnya itu.



2 jam kemudian…

             
Sekolah telah usai. Semua murid terlihat berdesakan di pintu gerbang yang terbuka lebar. Begitupun dengan Samuel, Dhandy, Aniel, Navlan, dan Tia. Mereka berlima berjalan bersama-sama setiap pulang sekolah. Tia dengan antusiasnya memaparkan semua hal mistik yang dia alami di kelasnya barusan kepada Dhandy, Aniel dan Navlan. Dan mereka hanya membalasnya dengan senyuman.
             
“Jadi Phantasma yang kau lihat itu, bermuka pucat dan berwajah retak, seperti ini…”  ucap Dhandy sambil menunjukan sebuah foto di ponselnya. Samuel dan Tia terperangah kaget. Dhandy ternyata telah terlebih dulu melihat mahkluk itu di sekolahnya. Bukan hanya itu, penampakan mahkluk gaib lainnya pun di sekolahnya, berhasil ia abadikan di dalam kamera ponselnya. Samuel dan Tia merasa aneh melihat kerjaan temannya itu.
            
  “Aku tak menunjukan foto ini kepada kalian, karna pasti kalian takkan percaya, sebelum melihatnya secara langsung. Heeheeee….. :D   Sambung Dhandy, sambil tertawa sendiri.




New Paper  :
           
            


Satu hal yang kalian harus tahu. Ketakutanmu akan menjadikan yang lainnya menjadi lebih kuat. Yahh.., itulah kata kunci yang aku dapat dari teman-teman anehku sekarang, dan juga kejadian yang ku alami tadi di sekolah. Ini menjadi bukti, ketakutanmu akan menjadi harapan negative mu, yang membuat apa yang kamu takutkan, bisa saja terjadi. Keberanian adalah modal utamamu untuk menghapus perasaan itu dan untuk terus ber sikap positif dalam menjalani kehidupan ini…



By  :  Samuel







Ending Story ARC  :


Disaat aku mencari arti sebuah keajaiban.

Yang ku temukan adalah logika.

Dimana…, arti sebuah misteri??
Hanyalah berbagai hal yang belum terungkapkan.
Dan aku percaya pada satu hal, yaitu diriku sendiri.

Dan aku berjanji, ketika ber ikatan, inilah yang terbaik, mencari arti kehidupan ku…

Ketika gelap dan terang, bersatu dalam sebuah harmoni.

Dunia akan ada, di dalam keseimbangan.

Kamu takkan mungkin, menemukan arti dari sebuah keajaiban.

Jikalau kamu tidak..,
-Menjadi pasangannyA-







Keywords Life :  Keywords two




-ILLUSA-



COMING SOON  :

[STORY] Introduction to The World Keywords Life


Story Arc   :  Mysteri, Pshylosopy, Fiksi
By  :  Gofatik Hollow
Original Story by  :  ARC    

My Inspirasion :  Haruhi Suzumiya and Angel Bleast


-Gofatik Hollow Present-




KEYWORDS LIFE
 
“Hari ini.., memang selalu seperti ini. Kau bisa melihat langit biru pagi yang memanjakan matamu. Ditambah nyanyian kicauan burung yang menambahku bersemangat untuk pergi ke sekolah. Berkumpul seperti anak normal lainnya. Belajar, Bermain, Bercanda Gurau di kantin dan pulang dengan sahabat-sahabat di eskulku. Tidak masalah Ayahku selalu tidak memperbolehkan ku meminjam motornya untuk ku bawa pergi ke sekolah, karna kedisiplinan di tempat kerjanya, yang membuatnya tak boleh sampai datang terlambat.
             
Yahh…, selama aku masih memiliki teman-teman seperjuangan yang juga sama-sama masih memakai kedua kakinya untuk pulang dan pergi ke sekolah, dan lebih menggunakan jasa kendaraan umum. Ada salah satu orang teman eskulku yang mempunyai tingkah agak sedikit aneh. Dia bernama Dhandy. Ia dan teman-temannya yang pertama kali mengajakku untuk bergabung dalam eskul “AHIS” jika di singkat “Anggota Himpunan Ilmiah Siswa”.
             
Nama eskul yang menurutku agak sedikit aneh ketika disingkat. Jujur saja…, saya adalah murid pindahan. Sudah seminggu lebih saya menetap di kelas 3 IPA 2. Dhandy adalah teman baruku yang agak sedikit aneh. Dia mudah sekali ramah dan berkenalan dengan sahabat baru atau murid dari sekolah pindahan, namun ia mudah juga untuk mengabaikanku sendirian. Sifatnya yang agak pemalu, spontan, dan misterius, terutama untuk masalah-masalah di luar logika, memacu rasa penasaranku untuk lebih dalam menggali kisah hidupnya.
             
Ia berteman dengan seorang siswa super jenius di kelas 3 IPA 1, yang bernama Aniel. Dhandy selalu menyindir aniel dengan kata “Alien”, jika ia kalah beradu pendapat dengannya. Aniel adalah orang yang mengagumkan, sekaligus yang paling misterius melebihi Dhandy dan Navlan yang selalu membuat dugaan-dugaan aneh ketika sedang mendiskusikan sesuatu yang gaib. Kenapa aku bisa masuk eskul “AHIS” yang di dalamnya banyak sekali orang-orang aneh, yang menyukai atau maniak hal gaib.  Haahaaahaaaaa…..”
             
Masalah Navlan…, dia juga adalah teman eskulku sekarang. Dia orang yang sama-sama pintar seperti Aniel, namun tak lebih pintar dari dia. Navlan sering terlihat bersama Aniel dan Dhandy lebih sering terlihat bersama Tia, dan juga beberapa siswi-siswi lain, yang seolah memperlakukan Dhandy seperti pacar mereka sendiri. Tapi Dhandy sangatlah acuh, dan dia adalah orang yang menganggap semua orang yang baik kepadanya, adalah temannya. Tanpa mau tau urusan hati mereka.
             
 Kembali lagi pada Navlan, Navlan adalah siswi kelas 2 IPA 1, adik kelas kita. Walaupun adik kelas, namun Navlan bersikap dewasa dan selalu berdebat dengan kaka kelasnya Dhandy, jika Dhandy mulai mencoba memecahkan masalah dengan membuat solusi gaib. Dhandy memang agak sedikit konyol, namun menarik dari segi ilmu khayalan dan ilmu pshikologi yang dia yakini. Navlan pintar sekali dalam dunia IPA. Dia tak pernah mendapatkan nilai 60 dalam mata pelajaran yang berkaitan dengan IPA. Dia juga sangat perduli akan lingkungan sekitarnya, dan mencoba membuat penemuan baru di eskul “AHIS” tentang lingkungan dan pemeliharaan lingkungan modern.
             
Berikutnya adalah Tia, nama aslinya.., Tiarose. Nama yang agak memaksakan menurutku. Maka dari itu, lebih sering di sapa Tia atau Rose. Agar lebih enak di dengar. Tia adalah sosok gadis yang agak sedikit supel dalam melakukan sesuatu. Termasuk ketika ia pertama kali mengajakku untuk berkenalan. Tia adalah gadis yang baik dan ramah, namun agak kocak dan menghidupkan suasana bila di dekatnya. Tentu saja karna sifatnya itu.
             
Tidak seperti Aniel dan Navlan.., yang membuatku selalu terpojok atas penuturan kata-kata mereka. Di tambah lagi Dhandy yang selalu tidak mempunyai hawa kehidupan, ketika aku berbincang-bincang dengannya, tentang masalah dunia nyata, seolah tak berminat. Dhandy adalah teman terbaik Tia. Ia selalu mencurahkan permasalahannya kepada Dhandy, yang di anggapnya sebagai pemberi solusi terbaik dan salah satu orang yang dapat ia percayai.
            
 Lalu ada Otoko dan Setiawan, mereka memang bukan teman eskulku, namun mereka adalah teman sekelasku, yang selalu berhasil memojokan Dhandy dengan perkataan-perkataan logisnya. Walaupun begitu.., mereka juga selalu menanyakan hal-hal aneh kepada Aniel, hingga Aniel kerepotan di buatnya. Aniel selalu berkata kepada Aku Navlan dan Dhandy.., untuk berhati-hati pada Otoko dan Setiawan, karna mereka bukan orang biasa. Itu terlihat pada auranya.
             

Aniel ini aneh…, aku mendengarkan perkataannya dari kuping kanan dan keluar dari kuping kiri. Sementara Dhandy malah bersemangat, seolah diberikan support oleh Aniel. Dan Navlan.., malah langsung berbincang-bincang tentang hal yang tak masuk akal kepada Aniel.
            
 Terakhir…, adalah Emil. Dia adalah adik kelasku di eskul “AHIS”, sama seperti Navlan. Jujur saja Emil adalah gadis yang sangat membuatku ketakutan. Bagaimana tidak. Dia bisa tiba-tiba menjerit, berteriak, dan bahkan lari terbirit-birit tanpa sebab yang jelas. Mungkin menurut beberapa teman sekelasku, mata batin Emil sudah terbuka, sedikit demi sedikit dan beberapa yang lainnya menyatakan Phobia akan hantu. Yang jelas.., aku tak mau jalan berduaan dengannya lagi, takut kesurupan.  Haahaaaa…..  :D
            Dan itulah cur. . . .

             
“Tiba-tiba saja, Samuel di kejutkan oleh tepukan dari arah belakangnya. Samuel yang sedari tadi sedang mencurahkan semua isi perasaannya, melalui sebuah buku catatan kecil, yang ia sebut “Biografi Hidup”, kaget bukan main dan segera menyembunyikan buku rahasianya itu di kolong mejanya.   “Aduh Tia…, bikin kaget saja. Kenapa kamu tak pergi ke kantin bersama Dhandy. Mumpung sekarang sedang istirahat…”  sapa Samuel sekenanya.
             
“Dhandy sibuk…, bersama Aniel dan Navlan. Membahas sesuatu yang tak penting di kelas 3 IPA 1, akhirnya aku sendirian dan memilih curhat sama murid baru saja. Tak apa kan ??  Tanya Tia berharap aku yang mau mendengarkan curhatannya.   “Beres lah Tia…, jika kau percaya kepadaku. Silakan curhat saja…!” jawab Samuel meng iyakan
             
Mereka berdua pun nampak saling terlihat akrab dan bercanda gurau. Tia telah salah menilai Samuel. Ia berfikir Samuel adalah orang yang cukup sulit di ajak berteman dan sulit berbaur dengan teman-teman di luar kelasnya. Ketika mereka keliatan sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja Navlan, Dhandy, dan Aniel mengejutkan mereka berdua dari arah luar pintu masuk.  “Kak Aniel punya bahasan baru….”  Ucap Navlan sambil tersenyum.




Opening Story ARC :


Bagaikan sebuah kotak, yang terkunci rapat-rapat.

Aku tak bisa membukanya...

Perlu waktu tuk bersabar, dan mulai mencari celah.
Tuk ukir keajaiban…,

 Dalam Ruang dan Waktu yang Terkunci


Ku akan terus berkhayal, dan membuat sebuah logika baru.
Dimana alam relative, dan aku meyakini itu.

Apakah sebuah isyarat atau hanya ungkapan dari firasat,
Ku akan terus berlari, mencari kata kunci…,


-Kehidupan-





WELCOME TO FLOS LUNAE

WORLD OF PAINT